PROFIL: Legenda Bernama Diego Maradona

Spanyol, 1982. Penonton seluruh dunia mengangguk-anggukkan kepalanya begitu seorang pemain muda yang belum genap 22 tahun diusir wasit dari pertandingan panas perempat final Piala Dunia antara Argentina melawan Brasil. Mereka barulah memaklumkan keputusan pelatih Cesar Luis Menotti yang mencoret nama pemain muda itu dari skuad Piala Dunia yang digelar di tanah sendiri empat tahun sebelumnya. Kartu merah diberikan karena pemain muda Argentina itu menerjang perut pemain Brasil dalam perebutan bola.

Namanya Diego Maradona (foto). Dunia takkan melupakan nama itu sebagai legenda sepakola yang penuh bakat, sekaligus kontroversial.

Silau dengan keterampilannya, usai Piala Dunia itu Barcelona menggaet Maradona dengan nilai transfer £5 juta. Rekor dunia saat itu. Sayangnya, pemain yang memulai debut bersama Argentinos Juniors saat berusia 15 tahun itu gagal membayar lunas melalui penampilan di atas lapangan. Cedera, provokator perkelahian massal dengan Athletic Bilbao, dan perkenalannya dengan kokain membuat Maradona kehilangan kepercayaan

Pada 1984, di antara sekian banyak pemain pilihan lain, Napoli membelinya. Harganya naik menjadi £6,9 juta. Lagi-lagi rekor dunia. Namun, kali ini Maradona mampu membayarnya dengan tuntas. Selama tujuh musim di Napoli, Maradona menjelma pahlawan. Dua gelar Serie A Italia, satu trofi Piala UEFA, dan satu Copa Italia adalah persembahan Maradona untuk Napoli.

Meksiko, 1986. Glenn Hoddle, Peter Reid, Kenny Sansom, Terry Butcher, Terry Fenwick, dan Peter Shilton. Jika Anda ingin menulis buku tentang legenda Maradona, enam pemain Inggris itu harus menjadi referensi utama. Hanya lima menit setelah mencetak gol kontroversial lewat tangannya, “la mano de Dios” [tangan Tuhan], Maradona meraih status legenda dalam partai perempat final Piala Dunia melawan Inggris itu. Enam pemain itu adalah mereka yang dilewati berturut-turut oleh 11 sentuhan Maradona. Gol impian seluruh pemain sepakbola.

Berkat penampilan gemilang di Meksiko kala itu, banyak yang menyebut Piala Dunia 1986 diraih seorang Diego Maradona, bukan Argentina. Pintu era keemasan pun terbuka lebar untuk anak keluarga miskin kelahiran Lanus itu.

Italia, 1990. Italia menyesal setengah mati menggelar partai semifinal Piala Dunia di stadion San Paolo, Napoli. Bukannya didukung, sebagian besar penonton tuan rumah malah mengelu-elukan nama Maradona, pahlawan mereka. Italia kalah adu penalti dan gagal mewujudkan impian juara dunia di kandang sendiri. Di Roma beberapa hari kemudian, setelah 90 menit pertandingan final usai, Maradona berjongkok dan menangis tersedu-sedu. Argentina ditaklukkan gol penalti Andreas Brehme. Gelar terbang ke tangan lawan yang mereka kalahkan empat tahun sebelumnya, Jerman (Barat). Sejak itu pula, Dewi Kemenangan memalingkan mukanya dari hadapan Maradona.

Pada 1991, otoritas sepakbola Italia menjatuhkan hukuman larangan 15 bulan bertanding bagi Maradona karena terbukti menggunakan kokain. Pamornya menukik. Maradona sempat singgah semusim di Sevilla musim 1992-93, sebelum pulang kandang bersama Newell’s Old Boys pada 1993, dan Boca Juniors pada rentang 1995-97.

Maradona sempat dipanggil kembali ke skuad Argentina untuk Piala Dunia 1994. Saat mencetak gol ke gawang Yunani pada pertandingan pertama grup, sepintas kejayaan masa lalu akan terulang kembali. Beberapa hari setelahnya, sang kapten gagal lolos tes doping karena mengkonsumsi ephedrine.

Pensiun pada hari ulang tahunnya yang ke-37, Maradona tidak lantas menghilang dari pemberitaan. Sayangnya, berita yang muncul tidak bernada positif — seperti kasus penembakan terhadap wartawan, obesitas, atau masalah kecanduan yang membuatnya direhabilitasi hingga ke Kuba. Pulih usai menjalani operasi, Maradona mencoba karir baru di dunia pertelevisian dengan membawakan program bincang-bincang “La Noche del 10” (“The Night of the no.10″).

Namun, sepakbola adalah cinta sejati Maradona. Seperti sudah dituntun oleh takdir, sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-48, 30 Oktober ini, federasi sepakbola Argentina (AFA) resmi menunjuk Maradona sebagai pelatih tim Tango. Meski tidak berpengalaman menjadi arsitek tim, Maradona dipercaya membimbing Albiceleste menuju kejayaan di Piala Dunia Afrika Selatan, 20 bulan dari sekarang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s